Hot Week
PROKLAMASI-COM Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengaku sempat digoda untuk bertindak lebih tegas dan keras, dalam menyikapi gelombang unjuk rasa yang mendesaknya mundur dari kursi Presiden. SBY mengaku sering dinilai terlalu baik dan demokratis dalam menjalankan roda pemerintahan.
"Dalam kondisi dan situasi politik seperti itulah dulu saya mendapatkan godaan. Sebuah godaan politik yang menggiurkan. Sambil menyalahkan saya karena sebagai Presiden saya dianggap terlalu demokratis dan terlalu baik. Sejumlah pihak menyarankan agar saya lebih tegas dan bertindak keras. Kata mereka, demokrasi tak cocok untuk Indonesia," kata SBY saat acara Dies Natalies Partai Demokrat di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2).
via: www.merdeka.com/peristiwa/
SBY diminta tidak memberi ruang bagi mereka yang mencoba mengganggunya di pemerintahan. Pemerintah juga digoda untuk mempersempit ruang politik bagi elite politik, pemilik modal bahkan pers yang menyerang penguasa.
"Rakyat tak boleh diberi ruang politik terlalu lebar, karena politik akan gaduh dan negara tidak stabil. Elite politik, pemilik modal dan pemimpin media massa kalau menyerang penguasa mesti digembosi dan dibikin diam. Mereka pasti punya kelemahan dan bahkan kesalahan," jelasnya.
"Kalau pebisnis punya urusan dan menentang pemerintah, hidupnya akan susah. Usut saja pajaknya, pasti mereka ketakutan. Mintakan para penegak hukum untuk mencari-cari kesalahan orang yang tidak kooperatif itu, pasti ketemu," sambung dia.
Akan tetapi, SBY telah memikirkan matang-matang mengubah gaya kepemimpinannya agar tidak ada yang berani menjatuhkannya. Akhirnya dia menolak usulan tersebut atas dasar logika dan rasionalitas.
"Tetapi ketika saya pikirkan baik-baik, hati dan pikiran saya berkata lain bukan itu posisi dan cara yang akan saya pilih dan jalankan sebagai Presiden. Rasional dan logika yang saya gunakan sederhana," tegasnya.
Mantan Menko Polhukam ini mengklaim telah berkomitmen untuk tidak tergoda menjadi pemimpin yang otoriter. Menurutnya, Tuhan telah mengabulkan harapannya dan menjalankan pemerintahan dengan demokratis hingga akhir masa jabatan.
"Kala itu saya bersumpah untuk tidak tergoda menjadi pemimpin yang otoriter dan represif. Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT mengabulkan permintaan saya. Tetapi sepertinya Sang Pencipta tidak memberikannya begitu saja. Tidak gratisan," klaimnya.
Akan tetapi, kata dia, segala komitmen itu berbuah fitnah dan kabar bohong yang menimpanya. SBY mengimbau keluarga dan Partai Demokrat untuk sabar dan tegas menghadapi manuver politik yang terjadi.
"Hal itu harus saya tebus dengan kesabaran dan ketegaran saya bersama keluarga. Kami harus sabar dan tegar menghadapi serangan politik, fitnah dan pembunuhan karakter. Termasuk olok-olok dan penghinaan terhadap pribadi saya," pungkasnya
via: www.merdeka.com/peristiwa/sby-mengaku-sempat-digoda-untuk-jadi-pemimpin-otoriter.html
"Dalam kondisi dan situasi politik seperti itulah dulu saya mendapatkan godaan. Sebuah godaan politik yang menggiurkan. Sambil menyalahkan saya karena sebagai Presiden saya dianggap terlalu demokratis dan terlalu baik. Sejumlah pihak menyarankan agar saya lebih tegas dan bertindak keras. Kata mereka, demokrasi tak cocok untuk Indonesia," kata SBY saat acara Dies Natalies Partai Demokrat di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2).
via: www.merdeka.com/peristiwa/
SBY diminta tidak memberi ruang bagi mereka yang mencoba mengganggunya di pemerintahan. Pemerintah juga digoda untuk mempersempit ruang politik bagi elite politik, pemilik modal bahkan pers yang menyerang penguasa.
"Rakyat tak boleh diberi ruang politik terlalu lebar, karena politik akan gaduh dan negara tidak stabil. Elite politik, pemilik modal dan pemimpin media massa kalau menyerang penguasa mesti digembosi dan dibikin diam. Mereka pasti punya kelemahan dan bahkan kesalahan," jelasnya.
"Kalau pebisnis punya urusan dan menentang pemerintah, hidupnya akan susah. Usut saja pajaknya, pasti mereka ketakutan. Mintakan para penegak hukum untuk mencari-cari kesalahan orang yang tidak kooperatif itu, pasti ketemu," sambung dia.
Akan tetapi, SBY telah memikirkan matang-matang mengubah gaya kepemimpinannya agar tidak ada yang berani menjatuhkannya. Akhirnya dia menolak usulan tersebut atas dasar logika dan rasionalitas.
"Tetapi ketika saya pikirkan baik-baik, hati dan pikiran saya berkata lain bukan itu posisi dan cara yang akan saya pilih dan jalankan sebagai Presiden. Rasional dan logika yang saya gunakan sederhana," tegasnya.
Mantan Menko Polhukam ini mengklaim telah berkomitmen untuk tidak tergoda menjadi pemimpin yang otoriter. Menurutnya, Tuhan telah mengabulkan harapannya dan menjalankan pemerintahan dengan demokratis hingga akhir masa jabatan.
"Kala itu saya bersumpah untuk tidak tergoda menjadi pemimpin yang otoriter dan represif. Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT mengabulkan permintaan saya. Tetapi sepertinya Sang Pencipta tidak memberikannya begitu saja. Tidak gratisan," klaimnya.
Akan tetapi, kata dia, segala komitmen itu berbuah fitnah dan kabar bohong yang menimpanya. SBY mengimbau keluarga dan Partai Demokrat untuk sabar dan tegas menghadapi manuver politik yang terjadi.
"Hal itu harus saya tebus dengan kesabaran dan ketegaran saya bersama keluarga. Kami harus sabar dan tegar menghadapi serangan politik, fitnah dan pembunuhan karakter. Termasuk olok-olok dan penghinaan terhadap pribadi saya," pungkasnya
via: www.merdeka.com/peristiwa/sby-mengaku-sempat-digoda-untuk-jadi-pemimpin-otoriter.html
Halaman

